"Jalaluddin as-Suyuthi, salah satu pembela gigih Ibn ‘Arabi, mengatakan: ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun min al-safalah
(tiap orang besar dalam sejarahnya selalu punya musuh orang-orang
bodoh). Kita tahu, al-Hallaj disalahpahami dan karena itu dimusuhi oleh
dua otoritas bodoh sekaligus: aliansi tak suci agama dan politik"
Melanjutkan dua
seri tadarus Ramadlan sebelumnya, tentang Abu Yazid al-Busthami pada
seri pertama dan Suhrawardi al-Maqtul pada seri kedua, Selasa
(24/08/2010) berlansung seri ketiga
sekaligus seri penutup tadarus Ramadlan 1431 H, yang bertajuk “Mengaji
pada Sufi”. Seri ketiga kali ini mengangkat seorang sufi
besar pertengahan abad ke-3 Hijriyah, yaitu Husain ibn Manshur al-Hallaj, atau
yang lebih dikenal dengan nama al-Hallaj. Tadarus kali ini
menghadirkan dua narasumber: Kiai Husain Muhammad dan Moh. Guntur
Romli.

Kang Husain, demikian Kiai feminis pengasuh Pondok
Pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat ini biasa
disapa, malam itu menguraikan al-Hallaj dengan cara bertutur dan
bercerita.
Alkisah, demikian Kang Husain yang juga
komisioner Komnas Perempuan itu mengawali ceritanya, telah lama kedua
orang tua di kampung Thur, Persia, itu menanti kelahiran seorang anak
yang kelak bernama al-Hallaj (244 H/858 M-309 H/922 M). Maka ketika
anak itu telah lahir dan tumbuh besar, dengan niat memberikan
pendidikan yang terbaik, kedua orang tuanya menitipkan al-Hallaj pada
guru sufi di masa itu, yakni Sahl al-Tustari (w. 283 H). Sebelum
al-Hallaj dititipkan pada sufi Sahl al-Tustari, ia sudah menyelesaikan
pelajaran-pelajaran dasar dalam Islam di kampungnya sendiri: tata
bahasa Arab, membaca Al-Qur’an, tafsir, hadis, fiqh, teologi, sejarah.
Konon,
cerita Kang Husain, satu hari di masjid tempat al-Hallaj belajar
kepada sufi Sahl al-Tustari, saat al-Hallaj menyapu di mihrab masjid,
ia menemukan secarik kertas kewalian gurunya itu, yang sekali lagi
konon, turun dari langit. Sebagai santri yunior yang masih percaya
dengan karamah dan berkah, ia telan secarik kertas kewalian dari langit
itu (tentu mesti ditambahkan catatan di sini bahwa "mitos tentang
kertas" ini hendaklah dimaknai secara metaforis).
Dan
benar saja, setelah menelan secarik kertas kewalian gurunya itu,
al-Hallaj merasa seolah mendapat inspirasi spiritual dari atas yang
melimpah-limpah, dan memang inilah yang ia inginkan selama ini setelah
beberapa lama belajar Islam, ia masih merasa kering dan tidak
mendapatkan ruh hakiki dari Islam. Ia merasakan ada dorongan besar untuk
memasuki dunia tasawuf. Seolah ia baru saja menelan material gaib ke
dalam tubuhnya. Inilah awal karir al-Hallaj dalam dunia tasawuf. Dari
teras masjid salah seorang guru sufinya, Sahl al-Tustari, karir kesufian
al-Hallaj bermula.
Sejak itu, al-Hallaj makin gandrung
dengan dunia tasawuf. Dan jenis tasawuf yang ia gandrungi bukan jenis
tasawuf yang konvensional saat itu. Ia lebih condong pada jenis tasawuf
yang tidak lazim, jenis tasawuf yang membawanya kepada pengalaman
ekstasis (
syathahat: ucapan para sufi yang dikenal aneh,
seolah bertentangan dengan syari’at secara lahiriyah dan akal
fikiran). Jenis tasawuf yang konvensional dan mainstream adalah jenis
tasawuf yang bercorak sunni, yang kalaupun mengakui adanya pengalaman
fana’ (lebur atau sirna) dengan/dalam Tuhan, masih
menyisakan batas antara manusia dan Tuhan; antara manusia dan Tuhan
masih ada semacam
ceiling glass, plafon kaca yang karena
jenisnya dari kaca seolah tidak ada materi pemisah, tapi begitu si
manusia itu hendak berdiri, ia sundul menyentuh sekat di atas kepala.
Dan
benar saja, lanjut Kang Husein dengan ceritanya, ketika al-Hallaj
pergi haji untuk yang pertama kali, “ketidaklaziman” al-Hallaj mulai
nampak. Ia naik ke puncak Jabal Rahmah di ‘Arafah, lalu memanjatkan
sebaris kalimat berikut:
ya dalilal ha’irin, zidni tahayyuran # wa idza kuntu kafiran fa zidni kufran
Oh, Tuhanku, Pembimbing orang-orang bingung, berilah tambah atas kebingunganku.
Jika aku kafir, berilah tambah atas kekafiranku.
Doa
al-Hallaj di ‘Arafah itu seolah disambut oleh Tuhan. Sekembalinya dari
haji pertamanya itu, al-Hallaj semakin masuk dalam pusaran pengalaman
spiritual yang memabukkan, tapi juga sekaligus tampak membingungkan
bagi kalangan awam. Ia makin tidak puas dengan gagasan-gagasan standar
yang ada. Yang ia inginkan adalah “bertemu” Tuhan seperti dulu Musa
pernah menginginkan di bukit Sina, seperti Muhammad pernah mencecap di
pelataran
sidratul muntaha, di dekat Pohon Lotus arah kanan singgasana (
‘arsy) Tuhan.
Al-Hallaj
pulang ke kampung halaman sambil terus mencari. Lalu ia merasa
menemukan-Nya, tentu bukan di bukit Sina, bukan pula di dekat Pohon
Lotus. Ia menjumpai-Nya di dalam rumah hatinya sendiri.
Baju kesufiannya ia rasakan sebagai
hijab,
penghalang pertemuannya dengan Tuhan. Maka ia "tanggalkan baju” itu.
Ia kenakan pakaian orang gelandangan. Masa-masa ini al-Hallaj pergi
haji untuk yang kedua kali. Tapi ia masih penasaran. Ia terus
mengembara, terus mencari. Ia pergi hingga India dan Cina. Dalam kelana
yang hampir lima tahun itu ia mampir lagi ke Makah, ia tunaikan haji
untuk yang ketiga kali.
Semenjak itu, lanjut Kang Husain,
al-Hallaj makin matang pengalaman spiritualnya. Suatu waktu, ia
merasakan pengalaman seolah Tuhan menitis ke dalam dirinya. Lalu ia
lontarkan baris syair berikut:
ana man ahwa wa man ahwa ana # nahnu ruhani halalna badana
fa idza abshartani abhsartahu # wa idza abshartahu abshartana
Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta adalah Aku.
Kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh.
Bila kau memandangku, kau memandang-Nya.
Bila kau memandang-Nya, Kau memandang Kami. [
Diwan, 57]
Dari kata
halalna (kami melebur) dalam syair al-Hallaj di atas, orang lalu menyimpulkan al-Hallaj menganut paham
hulul, Tuhan menitis ke dalam diri al-Hallaj. Proses merasuk dari atas ke bawah, para sufi menyebutnya sebagai “insiden”
hulul.
Dalam keadaan
hulul-nya, al-Hallaj seolah didatangi Sang Kekasih.Tapi di saat yang lain, ketika al-Hallaj “siuman” dari peristiwa
hulul itu,
ia merasa seolah kehilangan seorang kekasih. Kini ia rindu, dan ia
ingin mendatangi, menjemput Sang Kekasih. Al-Hallaj berhasil, ia
bertemu dengan Sang Kekasih, lalu ia mabuk spiritual dan sontak ia
lontarkan kalimat:
ana al-haqq (akulah kebenaran). Saat al-Hallaj melontarkan
ana al-haqq, adalah saat ia menyatu (
ittihad) dengan Tuhan. Lalu orang menyimpulkan al-Hallaj menganut paham
ittihad, proses merasuk dan menubuh dari bawah ke atas.
Pengalaman al-Hallaj tentang
hulul dan
ittihad membawanya pada refleksi tentang kesatuan agama-agama (
wahdatul adyan). Bagi al-Hallaj, kesatuan agama-agama adalah keniscayaan dari ziarah spiritualnya berupa
hulul dan
ittihad. Setelah menjalani
rihlah ruhaniyyah hingga
level yang begitu tinggi itu, ia sampai pada refleksi tentang kesatuan
agama-agama seperti yang ia lontarkan dalam beberapa baris bait
berikut:
Tafakkartu fi al-adyani jidda tahaqquqi # fa alfaituha ashlan lahu syu’abun jamma
Fala tathluban li al-mar’i dinan fa innahu # yashuddu ‘an al-ashli al-watsiqi wa innama
Yuthalibuhu ashlun yu’abbiru ‘indahu # jami’al ma’ali wal ma’ani fa yafhamaha
Sungguh telah aku merenung panjang tentang agama-agama.
Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang.
Usahlah kau paksa orang memeluk satu saja.
Demikian itu hanya akan memalingkannya dari akar yang menghunjam.
Seyogyanyalah ia mencari akar itu sendiri.
Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan selaksa makna. Lalu ia akan mafhum sendiri.
“Insiden” di teras masjid itu memang benar-benar telah membawa al-Hallaj ke titik penziarahan dan
rihlah ruhaniyyah
yang begitu jauh yang ia tak akan pernah kembali dan surut ke
belakang. Pada momen ia berada pada titik terjauhnya itulah lontaran
gagasan-gagasan “aneh” al-Hallaj keluar.
Unfortunately, di
luar sana ada yang merasa terganggu dan terancam oleh lontaran-lontaran
“subversive” al-Hallaj, yaitu para pemegang otoritas, baik politik
maupun agama. Sebab ia bukan hanya “subversif” dalam gagasan, al-Hallaj
juga “subversif” dalam pergerakan. Ia gabung dengan gerakan Qaramithah
yang berafiliasi pada Syiah Isma’iliyah, oposan Dinasti Abbasiyah
saat itu. Khalifah Abbasiyah saat itu, al-Muqtadir Billah, menjatuhkan
vonis hukum mati di tiang salib pada al-Hallaj. Al-Hallaj kembali
menyadari bahwa “insiden” di teras masjid itu bukan hanya membawanya
pada penziarahan spiritual tertinggi, tapi juga sekaligus penziarahan
yang paling tragis dalam sejarah sufisme Islam. Dari teras masjid, kini
penziarahan itu berujung di tiang salib.
Tapi sosok
al-Hallaj juga bisa dibaca secara “terbalik”. Guntur Romli, pembicara
kedua malam itu, ingin membaca al-Hallaj secara “terbalik”, sejak
kematiannya di tiang salib lalu mundur ke belakang. Guntur, aktivis
kebebasan beragama yang juga pegiat di Komunitas Salihara Jakarta itu,
berpandangan bahwa sosok al-Hallaj akan terang benderang dengan cara
pembacaan seperti itu. Cerita tragis al-Hallaj di tiang salib justru
menjadi fragmen menarik untuk mengurai kehidupan al-Hallaj. Guntur
ingin mengangkat fragmen akhir dari cerita al-Hallaj di tiang salib itu
sebagai
entry point untuk memetakan sepak terjang kehidupan
al-Hallaj. Guntur mengutip salah satu syair al-Hallaj yang di dalamnya
ia, al-Hallaj, meramalkan sendiri akhir episode kehidupannya, sebagai
berikut:
Bukankah telah kusampaikan pada pecintaku # aku mengarungi samudera dengan kapal yang pecah
Dalam agama salib akan berakhir kematianku # bukan tanah lapang atau sebuah kota jadi tujuanku
Dua
bait syair ini cukup penting untuk membaca sosok al-Hallaj. Al-Hallaj
telah meramalkan sendiri episode akhir kehidupannya: pada sebuah tiang
salib. Nasib tragis al-Hallaj di tiang salib merupakan fragmen penting
untuk membaca sosoknya sebagai mistikus besar, jika bukan terbesar,
pertengahan abad ke-3 hijriyah.
Menurut Guntur, penulis buku
Feminis Muslim
yang baru dilaunching beberapa bulan lalu itu, ada beberapa pembacaan
yang bisa diderivasikan dari dua bait di atas. Bait pertama syair
al-Hallaj di atas mengingatkan kita pada cerita Nabi Khidlir bersama
Musa. Dalam salah satu fragmen cerita Musa bersama Khidlir itu, mereka
berdua menaiki perahu dan Khidlir sengaja melobangi perahu itu. Musa
tidak habis pikir kenapa perahu yang dalam kondisi baik dengan sengaja
dilobangi oleh Khidlir. Seluruh fragmen cerita Musa bersama Khidlir
menggambarkan dua blok: Musa yang eksoteris dan Khidlir yang esoteris.
Musa yang hanya melihat aspek lahir setiap peristiwa yang ia saksikan
bersama Khidlir, dan Khidlir yang selalu melampaui yang lahir.
Al-Hallaj
ketika mengatakan dalam syairnya di atas bahwa “aku mengarungi
samudera dengan kapal pecah”, ingin memposisikan diri pada “blok
epistemis” Khidlir, yaitu blok esoteris. Dan itu berarti ia, al-Hallaj,
dengan sadar mengambil posisi diametral terhadap front eksoteris:
ulama fikih, kaum sufi konvensional dan seluruh front literalis secara
umum. Manifestasinya bisa dilacak dalam seluruh gagasan konsep
al-Hallaj. Misalnya al-Hallaj berpandangan bahwa seluruh ritual
keagamaan yang tercantum dalam rukun Islam: salat, puasa, zakat, haji,
tidak penting dan bisa disubstitusi dengan ritual khas al-Hallaj yang
hanya perlu dilakukan sekali untuk seumur hidup. Dalam hal ini al-Hallaj
bertabrakan dengan otoritas fikih, juga kaum sufi konvensional yang
masih mensyaratkan syari’ah lahir sebagai fondasi pijakan untuk laku
hakikat dalam tasawuf.
Dengan kalangan sufi konvensional,
al-Hallaj juga jelas berseberangan. Manifestasinya jelas sekali,
misalnya pandangan al-Hallaj tentang ittihad, wahdatul wujud, lebih
spesifik adalah pengalaman spiritual yang menjadi
trademark dia, yaitu
hulul. Bagi sufi konvensional, finalitas relasi Tuhan-manusia adalah dualisme. Dalam bahasa kaum teolog:
tanzih, memposisikan Tuhan dalam ke-
lahut-annya, dan sekaligus menempatkan manusia pada posisi ke-
nasut-annya.
Sejenis laku spiritual yang tahu diri bahwa antara Tuhan dan manusia
ada semacam sekat plafon kaca yang tidak bisa disangkal. Dengan
demikian bait pertama syair al-Hallaj di atas menjelaskan posisi
religio-spiritual al-Hallaj, jenis relasi vertikal dia dengan Yang di
Atas.
Dalam bait kedua, lanjut Guntur, al-Hallaj ingin
menegaskan posisi religio-sosial-politik yang ia pilih. Selama ini
orang berdebat tentang paham apa sebenarnya yang dianut oleh al-Hallaj.
Apakah ia menganut paham
ittihad (seperti al-Busthami), wahdatul wujud (sebagaimana Ibn ‘Arabi), ataukah
hulul sebagaimana
ia sering dikonotasikan dengan paham terakhir itu. Dalam bait kedua
syair di atas, seolah al-Hallaj menegaskan bahwa paham-paham yang telah
lalu itu tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan pilihan dia
pada fragmen akhir kehidupannya: yaitu "agama salib".
Tapi
orang terlalu sering salah paham, orang mengira al-Hallaj murtad karena
telah memproklamirkan diri sebagai penganut "agama salib". Lagi-lagi
orang tidak memahami posisi yang telah al-Hallaj pilih seperti
terlukiskan dalam bait pertama syair di atas, yaitu posisi esoteris.
Orang gagal membaca setiap lontaran al-Hallaj. Ketika al-Hallaj
mengatakan “kematianku berakhir pada agama salib”, orang membacanya
secara eksoteris, secara lahiriah. Sudah barang tentu, sebagaimana
posisi yang dipilih sendiri oleh al-Hallaj, lontaran ucapan al-Hallaj
tentang agama salib ini mesti lah dimaknai secara esoteri; bukannya
secara serampangan menganggap bahwa al-Hallaj telah murtad karena
secara formal menyatakan "menyeberang" ke agama lain: "agama salib".
Dengan
ucapannya “dalam agama salib kematianku berakhir” dalam bait kedua
syair di atas, al-Hallaj sebenarnya sedang menegaskan pilihan sikap
religio-sosial-politik dia, menegaskan jenis relasi horizontalnya. Oleh
karena itu, ucapan al-Hallaj ini harus dimaknai secara esoteris, bukan
eksoteris-lahiriyah.
Dari aspek religius, bisa dimaknai
bahwa al-Hallaj sangat menaruh simpati dengan agama Kristen –-dan hal
ini sesuai belaka dengan gagasan al-Hallaj tentang kesatuan
agama-agama. Simpati dan respek al-Hallaj terhadap agama Kristen tampak
misalnya dari kosakata kasih yang sering al-Hallaj ucapkan, kosakata
yang menjadi
trademark ajaran Yesus. Misalnya dalam kalimat
al-Hallaj, saat algojo Abul Harits al-Sayyaf hendak memotong tangan dan
kaki al-Hallaj, berikut ini:
Oh Tuhanku, aku telah masuk rumah penuh idaman (fi manzilati ar-ragha’ib). Aku menyaksikan keajaiban. Tuhanku, Engkau yang mengasihi pada orang yang menyakitimu, bagaimana Engkau tidak mau mengasihi orang yang disakiti karena-Mu?
Ucapan
al-Hallaj tentang agama salib juga bisa dibaca dari aspek
sosial-politik. Hal itu tampak dari pembelaannya pada kaum tertindas.
Suatu hari ia menerima sekantong uang dinar, uang itu tidak ia sisihkan
sebagian untuk membayar upeti atau pajak kepada khalifah Abbasiyah saat
itu, tapi langsung ia serahkan semuanya kepada kaum fakir miskin yang
berada di masjid terdekat. Ia juga ikut dalam pergerakan oposisi kaum
Qaramithah, yang mengamalkan hidup kebersamaan, kesetaraan dan
berkeadilan.
Tapi al-Hallaj terlanjur disalahpahami. Ia
dituduh dengan dua kesalahan sekaligus: segi agama ia murtad, sisi
politik ia dituduh sebagai
bughat (pengacau stabilitas
sosial-politik). Maka seorang wazir Hamid ibn al-Abbas menggelar
sidang. Sidang yang mendapat dukungan ulama dari Mazhab Maliki (Abu
Umar ibn al-Hamadi), dan ulama dari Mazhab Hanafi (Ibn Bahlul), juga
pendiri Mazhab Dhahiri (Abu Daud al-Dhahiri) itu akhirnya memutuskan
vonis hukuman terkejam yang belum pernah ada preseden sebelumnya,
kombinasi dari potong tangan dan kaki, salib, pancung, dan
dibumihanguskan dari muka bumi. Itu karena al-Hallaj dianggap melakukan
kesalahan berat: murtad sekaligus
bughat. Itu berarti ia
melawan Allah dan Rasul-Nya. Maka vonis hukuman brutal yang ditimpakan
kepada al-Hallaj justru –sekaligus sebuah ironi-- didasarkan pada surat
al-Maidah ayat 33 sebagai berikut:
“Sesungguhnya pembalasan
terhadap orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat
kerusakan di muka bumi, tidak lain mereka itu dibunuh, atau disalib,
atau dipotong tangan dan kaki mereka bersilangan, atau dibuang dari
muka bumi. Yang demikian itu adalah sebagai suatu penghinaan untuk
mereka di dunia. Dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang berat”
Jalaluddin as-Suyuthi, salah satu pembela gigih Ibn ‘Arabi, mengatakan:
ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun min al-safalah
(tiap orang besar dalam sejarahnya selalu punya musuh orang-orang
bodoh). Kita tahu, al-Hallaj disalahpahami dan karena itu dimusuhi oleh
dua otoritas bodoh sekaligus: aliansi tak suci agama dan politik. Tapi
itu berarti pertanda bahwa al-Hallaj adalah mistikus besar, jika bukan
terbesar, abad ketiga hijriyah: ia sufi sekaligus aktivis sosial. Dan
kita pun tahu, ternyata sejarah berulang, kini dan juga nanti.
Malja Abrar